Momentum itu menjadi pemandangan yang mengharukan. Tidak ada lagi kubu-kubuan, tidak ada rasa menang atau kalah. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa organisasi harus tetap berdiri di atas persaudaraan.
“Pak Iskandar, kami titip SWI,” ujar Alimusa sambil menggenggam tangan Ketua Umum terpilih.
“Siap, Mas Ali. Ini bukan kerja satu orang, ini kerja kita semua,” jawab H. Iskandar.
Di luar gedung, suasana malam Boyolali tampak tenang. Sejumlah anak muda menikmati kopi di angkringan dengan lampu temaram khas Jawa Tengah. Namun di dalam aula Munas, semangat persatuan justru terasa menyala terang.
Munas SWI 2026 menjadi bukti bahwa perbedaan pandangan dalam organisasi bukanlah ancaman, melainkan bagian dari proses demokrasi yang sehat. Para wartawan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa perdebatan dapat diselesaikan dengan kedewasaan dan rasa saling menghormati.
Forum tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa tantangan terbesar insan pers saat ini bukanlah perbedaan internal, melainkan bagaimana menjaga independensi, memperjuangkan keadilan, melawan kebodohan publik, serta terus menyuarakan kebenaran di tengah derasnya arus informasi.
Terpilihnya H. Iskandar diharapkan menjadi awal baru bagi SWI untuk semakin solid, profesional, kritis, dan beradab dalam menjalankan fungsi pers sebagai pilar demokrasi.
Malam itu, seluruh delegasi pulang membawa satu rasa yang sama: lega dan gembira ,bukan semata karna hasil pemilihan melainkan karna SWI berhasil melewati ujian Demokrasi dengan tetap menjaga Persaudaraan. Di panggung Demokrasi Suara boleh berbeda Namun Salam persaudaraan tidak boleh pudar
( SWI OKI )













