Menurutnya, masyarakat Sunda perlu melakukan “napak tilas” sejarah untuk menyerap energi dan kebijaksanaan masa lalu demi membangun masa depan yang lebih baik.“Mapak tilas dilakukan agar masyarakat dapat menapaki energi masa lalu untuk kehidupan masa depan,” ujar Dedi Mulyadi di hadapan para tamu undangan dan masyarakat yang memadati area acara.
Kirab Budaya Tatar Sunda sendiri dilaksanakan di sembilan kota dan kabupaten di Jawa Barat dengan mengusung tema “Napak Tilas Pajajaran”. Tema tersebut merefleksikan upaya menghidupkan kembali jati diri masyarakat Sunda yang memiliki akar sejarah dan kebudayaan kuat sejak era Kerajaan Pajajaran.
Selain menampilkan kekayaan budaya tradisional Sunda, kegiatan ini juga menjadi ruang edukasi sejarah bagi generasi muda agar lebih mengenal identitas budaya daerahnya di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Suasana semakin semarak saat pertunjukan drama kolosal “Pajajaran Gugat” ditampilkan di penghujung acara. Tata panggung megah, permainan cahaya artistik, serta penampilan para seniman dan budayawan sukses menghadirkan nuansa historis yang menggugah antusiasme penonton.












