Salah satu tokoh masyarakat Kayuagung, Saiful Ardan mengatakan, awal mulanya Midang Bebuke terjadi sekitar abad ke-17. Midang dijadikan sebagai syarat pernikahan.
“Ketika itu ada perseteruan antara pihak mempelai laki-laki dan perempuan. Pihak mempelai laki-laki berasal dari keluarga yang miskin sementara pihak perempuan berasal dari keluarga yang terpandang” kata Saiful kepada awak media ini,Selasa (2/3/2025).
Dia juga mengatakan, bahwa hal ini membuat pihak perempuan meminta sejumlah syarat kepada keluarga laki-laki yaitu berupa arak-arakan kereta hias menyerupai naga lengkap dengan gagasannya. Singkat cerita persyaratan tersebut dipenuhi.
Sejak peristiwa itulah, masyarakat Kota Kayuagung menyelenggarakan acara Midang Bebuke Morge Siwe.








